Header Ads

ad

Tips Jitu Meminta Maaf – Enam 6 Hal Penting Agar Orang Lain Mau Memaafkan Kita

Setiap orang tidak ada yang sempurna, setiap orang juga tidak ada yang luput dari kesalahan, baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Namun terkadang ada orang yang tidak mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf, ataupun jika kita meminta maaf, tidak dimaafkan. Memang untuk menerima atau tidak menerima permintaan maaf tergantung masing—masing orang dan bagaimana posisi kesalahan itu menurut orang tersebut. Maka dari itu pada tulisan kali ini kita akan memberikan aspek penting yang harus diperhatikan saat meminta maaf, urusan akan dimaafkan atau tidak tergantung pada keseriusan kita dan orang lain. 

1. Bertanggung Jawab
Photo by Clem Onojeghuo on Unsplash
Aspek penting pertama yang harus kita lakukan saat melakukan kesalahan adalah bertanggung jawab, kita harus mengakui bahwa itu memang kesalahan kita. Jangan pernah melemparkan kesalahan kepada orang lain, karena hal ini menunjukkan betapa tidak bertanggung jawabnya kita, dan itu dapat membuat permintaan maaf lebih sulit. Dengan menunjukkan sikap bertanggung jawab kita masih bisa menjaga kepercayaannya terhadap kita, karena kita mau menerima dan melakukan perbaikan atas kesalahan yang kita buat.

2. Meminta Maaf dengan Tulus
gambar: stocksnap.io
Hal penting lainnya yang kadang sulit untuk dilakukan beberapa orang adalah meminta maaf dengan tulus. Jika kita ingin meminta maaf, maka lakukanlah dengan tulus, tunjukkan ketulusan kita dengan bahasa tubuh yang tulus. Jika kita sekedar meminta maaf dengan bahasa tubuh yang arogan maka menunjukkan kita tidak tulus meminta maaf, tunjukkan permintaan maaf dengan bahasa tubuh yang tulus dan bersalah. Jangan sampai kita mengucapkan permintaan maaf dengan nada yang menjengkelkan, karena itu hanya akan membuat dia tidak percaya terhadap permintaan kita.

3. Tunjukkan Penyesalan
gambar: stocksnap.io
Menyambung bahasan sebelumnya tentang meminta maaf dengan tulus, aspek ketiga ini berhubungan erat dengan poin kedua. Kita harus menunjukkan penyesalan yang sungguh-sungguh dan tidak dibuat-buat agar dia dapat percaya pada penyesalan dan permintaan maaf kita, sehingga peluang untuk permintaan maaf kita diterima lebih besar. Maka dari itu tunjukkan rasa penyesalan yang tulus dan sungguh-sungguh dengan bahasa tubuh, tatapan mata, serta nada bicara yang menunjukkan penyesalan. 

4. Mau Menerima Hukuman
Photo by Stijn Swinnen on Unsplash
Setelah kita meminta maaf dengan menunjukkan rasa penyesalan yang tulus, kita harus mau menerima hukuman dari kesalahan kita. Sebagai bentuk tanggung jawab, kita dapat menawarkan kepadanya untuk memilih hukuman yang tepat untuk kita. Dengan menawarkan dia untuk memilih hukuman atas kesalahan kita akan menunjukkan kita bertanggung jawab atas kesalahan kita dan mau menerima konsekuensinya. Faktor keempat ini tepat dilakukan jika kita melakukan kesalahan fatal seperti dalam pekerjaan atau kelompok. Sehingga biarkanlah supervisor atau atasan kita yang menentukan hukuman untuk kita. 

5. Tidak Akan Mengulanginya
gambar: stocksnap.io
Tiga aspek pertama dalam tulisan ini adalah tentang pengakuan kesalahan, aspek keempat tentang penerimaan, dan aspek kelima serta keenam tentang meyakinkan. Maka dari itu pada aspek kelima ini kita harus meyakinkan dia bahwa kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kita harus bisa menjelaskan dengan baik, tulus, dan masuk akal kenapa kita melakukan kesalahan tersebut dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Penjelasan ditahap ini sangat ditentukan oleh bagaimana kita meyakinkan dia untuk tetap percaya pada kita, karena itulah tiga aspek sebelumnya penting kita lakukan dengan baik.

6. Tidak Ada Untungnya Untuk Kita
Photo by Niels Steeman on Unsplash
Hal terakhir yang patut kita perhatikan adalah dengan meyakinkan dia bahwa kita tidak mendapatkan keuntungan apapun dari kesalahan yang kita buat. Jangan pernah menyampaikan keuntungan dari kesalahan yang kita lakukan, karena hal itu akan membuat dia menjadi lebih marah dan tidak percaya pada kita. Maka dari itu yakinkan dia bahwa apa yang kita lakukan justru berdampak buruk pada kita dan tidak memberikan manfaat apapun untuk kita. 



Sumber : Lieberman, D. J. (2006). Agar siapa saja mau melakukan apa saja untuk Anda. Penerbit Serambi.

Tidak ada komentar